Prakarya Indonesia Gelar Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an

Prakarya Indonesia Gelar Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an: Membentuk Generasi Kreatif, Mandiri, dan Beriman Jakarta, 2025 — Di tengah perkembangan zaman yang menuntut kreativitas dan kemandirian, Prakarya Indonesia hadir memberikan kontribusi nyata melalui program bertajuk “Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an”. Acara ini tidak hanya mengajarkan keterampilan tangan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyatukan nilai-nilai spiritual dengan jiwa kewirausahaan. Diselenggarakan di Aula Pelatihan Prakarya Indonesia, Jakarta Selatan, kegiatan ini melibatkan lebih dari 150 santri penghafal Al-Qur’an dari berbagai pesantren dan rumah tahfidz di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Pelatihan ini diberikan secara gratis, lengkap dengan paket alat prakarya untuk masing-masing peserta. Baca juga: PRAKARYA INDONESIA: Kelas Membatik Bersama Sekolah Jerman Visi Sang Pemimpin: Iman dan Keterampilan untuk Masa Depan Bangsa CEO Prakarya Indonesia, Saiful Anwar, Ph.G, menyampaikan bahwa acara ini adalah bagian dari visi besar perusahaan dalam mendukung penguatan karakter generasi muda Indonesia. “Santri penghafal Al-Qur’an adalah aset bangsa yang luar biasa. Mereka memiliki kedalaman spiritual. Bayangkan jika ini dipadukan dengan keterampilan prakarya dan semangat wirausaha—kita sedang membentuk generasi yang bukan hanya kuat secara iman, tapi juga mandiri dan produktif secara ekonomi.” — ujar Saiful Anwar. Menurutnya, Indonesia saat ini tidak kekurangan sumber daya manusia, tetapi masih minim ruang-ruang pembelajaran praktis yang menyentuh lapisan akar rumput, seperti pesantren dan rumah tahfidz. Peserta Pelatihan: Hafizh Muda dari Seluruh Nusantara Peserta kegiatan ini adalah santri dan santriwati usia 12–20 tahun yang telah menghafal Al-Qur’an minimal 5 juz. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Riau, malang, surabaya, jakarta, depok, bekasi, bogor, lampung Banyak dari mereka adalah pelajar dari keluarga sederhana, yang sehari-harinya fokus belajar Al-Qur’an namun belum pernah mendapatkan pelatihan prakarya secara profesional. Karena itu, pelatihan ini menjadi pengalaman pertama yang sangat berharga bagi mereka. Materi Pelatihan: Dari Flanel hingga Miniatur Kayu Program pelatihan dibagi dalam beberapa sesi yang mengajarkan berbagai keterampilan dasar prakarya, di antaranya: Kerajinan kain flanel: membuat gantungan kunci, bunga, dan hiasan nama. Stik es krim & karton: pembuatan miniatur rumah, rak kecil, dan tempat alat tulis. Daur ulang bahan bekas: cara menyulap botol bekas menjadi pot gantung, atau kardus menjadi organizer. Manik-manik & pernak-pernik: membuat tasbih mini, bros jilbab, dan gelang. Penggunaan alat: pelatihan menggunakan glue gun (lem tembak), gunting craft, cutter khusus, dan lainnya. Seluruh peserta menerima paket prakarya eksklusif dari Prakarya Indonesia, termasuk lem tembak mini, kain flanel warna-warni, benang rajut, stik kayu, manik-manik, dan alat pendukung lainnya. Lebih dari Sekadar Karya: Disisipkan Nilai Spiritual Hal unik dari pelatihan ini adalah penyisipan nilai-nilai Qur’ani dan keimanan dalam proses pembelajaran. Setiap sesi diawali dengan pembacaan ayat-ayat tentang kerja keras, keikhlasan, dan pentingnya produktivitas dalam Islam. Dalam sesi “Tadabbur Kreatif”, Ustadzah Nurma Aulia dari Rumah Tahfidz El-Qalam menyampaikan kajian tentang bagaimana Nabi-Nabi terdahulu adalah pekerja keras—mulai dari Nabi Nuh sebagai tukang kayu, hingga Nabi Muhammad ﷺ yang berdagang sejak muda. “Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tapi juga mendorong kita berkarya dan memberi manfaat. Itulah nilai yang ingin kami tanamkan,” ujar Ustadzah Nurma di tengah sesi inspiratif tersebut. Wirausaha Santri: Menjual Karya dengan Akhlak Sebagai bagian dari pelatihan, para peserta juga dibekali dengan pemahaman dasar bisnis prakarya. Tim Prakarya Indonesia menghadirkan mentor UMKM muda, yang memberikan sesi khusus: “Menjual dengan Akhlak, Berkarya dengan Hati.” Para peserta diajarkan: Cara menghitung modal dan keuntungan sederhana Teknik memotret produk untuk dipromosikan di WhatsApp dan Instagram Etika berdagang dalam Islam Membuat katalog digital dan menerima pre-order Banyak peserta yang langsung antusias untuk mencoba menjual karya mereka kepada teman-teman pesantren atau komunitas masjid sekitar. Respons Peserta: Senang, Haru, dan Terinspirasi Salah satu peserta, Ahmad Faisal (17 tahun), penghafal 15 juz dari Depok, menyampaikan rasa harunya. “Biasanya kami hanya menghafal dan belajar kitab. Tapi hari ini saya bisa buat gantungan kunci dari flanel dan akrilik. Saya bangga, dan ingin ajarkan ke adik-adik di rumah tahfidz.” Sementara itu, Khadijah, santriwati dari Bandung, berkata bahwa kegiatan ini mengubah cara pandangnya tentang berkarya: “Saya pikir prakarya itu cuma main-main. Ternyata, bisa jadi peluang usaha, dan bisa disinergikan dengan dakwah.” Komitmen Ke Depan: Program Berkelanjutan dari Prakarya Indonesia Melihat respons positif, CEO Prakarya Indonesia, Saiful Anwar, Ph.D, menegaskan bahwa pelatihan ini akan menjadi program berkelanjutan. Dalam jangka panjang, pihaknya menargetkan: Mengadakan pelatihan di 10 kota besar setiap tahun Memberikan beasiswa alat prakarya untuk rumah tahfidz binaan Menggelar lomba prakarya santri nasional Membuka program reseller khusus santri sebagai wirausaha pemula “Kami ingin membentuk generasi penghafal Al-Qur’an yang juga pengusaha. Tidak ada yang lebih membanggakan selain melihat para hafizh punya karya dan penghasilan dari tangan mereka sendiri,” pungkas Saiful. Penutup: Saatnya Santri Naik Kelas, Berkarya dan Memberi Manfaat Pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa iman dan kreativitas bisa berjalan berdampingan. Santri yang biasanya diasosiasikan hanya dengan kitab dan lantunan hafalan, kini menunjukkan bahwa mereka juga bisa menghasilkan karya nyata yang bernilai ekonomi. Prakarya Indonesia, melalui acara ini, menegaskan perannya bukan hanya sebagai penyedia alat prakarya anak, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial. Ketika para hafizh mulai menjahit, menyusun stik es krim, dan menyulap kain flanel menjadi hiasan, mereka sebenarnya sedang menjahit masa depan mereka sendiri: masa depan yang mandiri, berdaya, dan tetap dalam naungan cahaya Al-Qur’an. Baca juga: Pelatihan Art Class Membuat Ondel dan Melukis Wayang melibatkan 1.800 siswa SD Budha Tzu Chi ❓ 1. Apa itu pelatihan gratis Prakarya Indonesia untuk penghafal Al-Qur’an? Pelatihan ini adalah program sosial dari Prakarya Indonesia yang memberikan keterampilan prakarya secara gratis kepada para santri dan santriwati penghafal Al-Qur’an. Tujuannya untuk membekali mereka dengan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan wirausaha. ❓ 2. Siapa saja yang bisa ikut pelatihan ini? Peserta pelatihan adalah santri atau santriwati berusia 12–20 tahun yang telah menghafal Al-Qur’an minimal 5 juz. Program ini dikhususkan untuk pesantren dan rumah tahfidz yang menjadi mitra Prakarya Indonesia. ❓ 3. Apa saja materi prakarya yang diajarkan? Materi pelatihan meliputi keterampilan membuat kerajinan dari kain flanel, stik es krim, barang daur ulang, manik-manik, serta teknik dasar menjahit dan penggunaan alat prakarya modern seperti lem tembak. ❓ 4. Apakah peserta mendapatkan alat dan bahan prakarya? Ya, seluruh peserta mendapatkan paket alat prakarya gratis dari Prakarya Indonesia. Isinya termasuk kain flanel, stik kayu, lem tembak mini, gunting
Kegiatan Kurikulum Prakarya Siswa SD di Semester Awal Tahun 2025–2026

Kegiatan Kurikulum Prakarya Siswa SD di Semester Awal Tahun 2025–2026: Mengembangkan Kreativitas dan Kemandirian Anak Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek dan Teknologi AI Pada tahun ajaran 2025–2026, implementasi kurikulum merdeka pada jenjang Sekolah Dasar (SD) semakin mengedepankan pendekatan pembelajaran yang holistik dan kontekstual. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peran strategis dalam pengembangan karakter, kreativitas, dan keterampilan abad 21 adalah Prakarya. Di semester awal ini, mata pelajaran Prakarya bukan hanya sekadar kegiatan membuat kerajinan tangan, melainkan telah berkembang menjadi ruang pembelajaran aktif yang mengintegrasikan project-based learning, kewirausahaan, dan bahkan kecerdasan buatan (AI). Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana kegiatan kurikulum Prakarya di SD pada semester awal tahun ajaran 2025–2026 menjadi wahana strategis untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan motorik halus, problem solving, serta pemahaman lingkungan sekitar siswa melalui pendekatan tematik dan teknologi. Baca juga: Mau Belajar Membatik di Mana? Prakarya Indonesia Solusinya Sejak 2014 Fokus Kurikulum Prakarya Semester Awal 2025–2026 Dalam struktur Kurikulum Merdeka, mata pelajaran Prakarya di SD menekankan pada empat aspek utama: Kerajinan Rekayasa Budidaya Pengolahan Namun, di semester awal—terutama kelas 1 hingga 3—fokus utama diberikan pada kerajinan dan pengembangan kreativitas dasar melalui aktivitas membuat karya sederhana dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar siswa. Berikut beberapa topik utama kegiatan Prakarya yang menjadi bagian dari kurikulum semester awal: Menganyam dari kertas lipat atau daun pandan kering Membuat kolase dari biji-bijian, kulit telur, atau potongan majalah bekas Meronce dari sedotan atau manik-manik Menggambar dan mewarnai pola batik sederhana Membuat mainan edukatif dari kardus bekas Setiap kegiatan dirancang bukan hanya untuk melatih keterampilan motorik halus, tetapi juga untuk menanamkan nilai kebersihan, kerja sama, kemandirian, dan apresiasi terhadap budaya lokal. Integrasi Teknologi dan AI dalam Pembelajaran Prakarya Tahun 2025 adalah era di mana teknologi menjadi bagian dari keseharian siswa. Untuk itu, kurikulum Prakarya yang dikembangkan pemerintah didorong agar mulai memperkenalkan teknologi secara kontekstual, salah satunya melalui penggunaan AI dalam proses eksplorasi ide dan evaluasi karya. Beberapa contoh integrasi AI dalam kegiatan Prakarya siswa SD: Menggunakan AI Drawing Generator: Siswa dapat meminta AI membuat sketsa dasar yang kemudian bisa mereka warnai atau salin ke media prakarya. Pengenalan AI Text-to-Image: Guru dapat menggunakan AI seperti DALL·E untuk menunjukkan berbagai desain kerajinan dari seluruh dunia yang relevan dengan topik prakarya di kelas. Refleksi Karya: Siswa dapat mendeskripsikan karya mereka ke dalam aplikasi berbasis AI yang memberikan umpan balik dan apresiasi secara otomatis. Integrasi ini tentu disesuaikan dengan usia dan kesiapan siswa. Penggunaan teknologi bersifat pendukung, bukan menggantikan proses kreatif manual, namun mampu menambah wawasan dan semangat siswa dalam berkreasi. Contoh Rangkaian Kegiatan Prakarya di Semester Awal Berikut adalah contoh modul kegiatan Prakarya untuk kelas 2 SD pada semester ganjil: Tema: Peduli Lingkungan Proyek: Membuat Celengan dari Botol Bekas Tujuan Pembelajaran: Mengenal konsep daur ulang dan manfaatnya Melatih ketelitian dan kreativitas dalam menghias Membiasakan budaya menabung sejak dini Langkah-langkah: Siswa diminta membawa botol bekas air mineral ukuran 600 ml dari rumah. Guru menjelaskan konsep daur ulang dan fungsi celengan. Siswa menggambar desain celengan di kertas menggunakan bantuan referensi AI (sketsa dari aplikasi guru). Siswa menghias botol bekas dengan kertas warna, stiker, dan kain perca. Guru dan teman-teman memberikan apresiasi terhadap hasil karya. Baca juga: Kursus Prakarya Tanah Liat Offline untuk Anak di Jakarta Peran Guru dan Orang Tua dalam Kegiatan Prakarya Guru menjadi fasilitator utama yang mendampingi siswa dalam proses berkreasi. Guru tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga membangun narasi positif tentang proses belajar—bahwa setiap karya memiliki nilai. Di semester awal, komunikasi antara guru dan orang tua sangat penting, khususnya dalam: Menyediakan bahan prakarya yang ramah anak dan mudah ditemukan Mendampingi anak saat mengerjakan tugas rumah (misalnya proyek mingguan) Mengapresiasi hasil karya anak dan mendorong mereka untuk terus mencoba Sekolah juga dapat memanfaatkan platform digital berbasis AI untuk memonitor progres dan kreativitas anak secara kolektif. Ini juga menjadi bentuk transparansi antara sekolah dan rumah. Mendukung Program Kurikulum Melalui Kolaborasi Industri dan Pelatihan Banyak sekolah dasar di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang, dan Depok, mulai menggandeng mitra industri kreatif seperti PRAKARYA INDONESIA untuk penyediaan bahan prakarya dan pelatihan guru. PRAKARYA INDONESIA menyediakan berbagai paket edukatif seperti: Paket kolase biji-bijian untuk SD Paket batik anak lengkap dengan canting mini dan pewarna ramah anak Paket clay edukatif untuk proyek STEM dan seni Pelatihan daring bagi guru untuk membuat RPP Prakarya kreatif berbasis AI Mitra seperti ini membantu sekolah dalam menyiapkan sumber daya tanpa harus mengeluarkan biaya besar, dan memberikan solusi praktis bagi sekolah-sekolah yang tidak memiliki laboratorium seni. Manfaat Jangka Panjang dari Pembelajaran Prakarya Penguatan Karakter dan Disiplin Anak belajar menghargai proses, sabar dalam menyelesaikan proyek, dan bangga terhadap hasil karyanya. Kemandirian dan Inovasi Dengan pendekatan berbasis proyek, siswa dilatih menjadi pemecah masalah sejak dini, termasuk dalam memilih bahan dan merancang karyanya sendiri. Adaptasi Teknologi Anak-anak tidak hanya pasif menghadapi teknologi, tetapi menggunakannya sebagai alat bantu dalam pengembangan ide dan presentasi karya. Potensi Kewirausahaan Beberapa proyek sederhana bisa menjadi inspirasi anak untuk menjual hasil karyanya di bazar sekolah atau program mini market day. Kesimpulan: Prakarya sebagai Fondasi Kreativitas di Era Digital Kegiatan Prakarya dalam kurikulum semester awal 2025–2026 bukan lagi sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian penting dari pembangunan karakter, kreativitas, dan kecakapan abad ke-21. Dengan pendekatan berbasis proyek, pemanfaatan teknologi AI secara kontekstual, serta kolaborasi dengan industri kreatif seperti PRAKARYA INDONESIA, siswa SD kini dapat mengeksplorasi potensi mereka secara lebih luas dan menyenangkan. Jika dilakukan secara konsisten, mata pelajaran Prakarya akan menjadi salah satu elemen kunci dalam mencetak generasi inovatif dan mandiri di masa depan—anak-anak yang tidak hanya bisa menciptakan sesuatu dari bahan sederhana, tetapi juga mampu menjelaskan nilai dan fungsinya dalam konteks kehidupan nyata. Pelatihan tersedia untuk guru dan siswa!Belajar prakarya kini makin mudah, kreatif, dan menyenangkan Berikut adalah 10 FAQ (Frequently Asked Questions) versi berbeda yang sering ditanyakan oleh pelanggan sebelum membeli produk prakarya untuk kebutuhan sekolah dasar: 1. Apakah produk prakarya ini mengikuti kurikulum terbaru tahun ajaran 2025–2026? Ya, semua produk prakarya kami telah disesuaikan dengan kurikulum merdeka dan tema pembelajaran tematik SD tahun ajaran 2025–2026. Kami juga menyediakan panduan pengerjaan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. 2. Bahan apa saja yang ada dalam satu paket prakarya?