Prakarya Indonesia

header dibawah untuk desktop.laptop, dan tablet

Email Kami

rumahprakarya@gmail.com

Lokasi Kami

Jl. Pesantren no.159 Jurang mangu Timur

header dibawah untuk handphone/mobile saja 

Prakarya Indonesia Gelar Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an

Prakarya Indonesia Gelar Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an

Prakarya Indonesia Gelar Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an: Membentuk Generasi Kreatif, Mandiri, dan Beriman

Jakarta, 2025 — Di tengah perkembangan zaman yang menuntut kreativitas dan kemandirian, Prakarya Indonesia hadir memberikan kontribusi nyata melalui program bertajuk “Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an”. Acara ini tidak hanya mengajarkan keterampilan tangan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyatukan nilai-nilai spiritual dengan jiwa kewirausahaan.

Diselenggarakan di Aula Pelatihan Prakarya Indonesia, Jakarta Selatan, kegiatan ini melibatkan lebih dari 150 santri penghafal Al-Qur’an dari berbagai pesantren dan rumah tahfidz di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Pelatihan ini diberikan secara gratis, lengkap dengan paket alat prakarya untuk masing-masing peserta.

Baca juga: PRAKARYA INDONESIA: Kelas Membatik Bersama Sekolah Jerman

Visi Sang Pemimpin: Iman dan Keterampilan untuk Masa Depan Bangsa

CEO Prakarya Indonesia, Saiful Anwar, Ph.G, menyampaikan bahwa acara ini adalah bagian dari visi besar perusahaan dalam mendukung penguatan karakter generasi muda Indonesia.

“Santri penghafal Al-Qur’an adalah aset bangsa yang luar biasa. Mereka memiliki kedalaman spiritual. Bayangkan jika ini dipadukan dengan keterampilan prakarya dan semangat wirausaha—kita sedang membentuk generasi yang bukan hanya kuat secara iman, tapi juga mandiri dan produktif secara ekonomi.” — ujar Saiful Anwar.

Menurutnya, Indonesia saat ini tidak kekurangan sumber daya manusia, tetapi masih minim ruang-ruang pembelajaran praktis yang menyentuh lapisan akar rumput, seperti pesantren dan rumah tahfidz.

Peserta Pelatihan: Hafizh Muda dari Seluruh Nusantara

Peserta kegiatan ini adalah santri dan santriwati usia 12–20 tahun yang telah menghafal Al-Qur’an minimal 5 juz. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Riau, malang, surabaya, jakarta, depok, bekasi, bogor, lampung

Banyak dari mereka adalah pelajar dari keluarga sederhana, yang sehari-harinya fokus belajar Al-Qur’an namun belum pernah mendapatkan pelatihan prakarya secara profesional. Karena itu, pelatihan ini menjadi pengalaman pertama yang sangat berharga bagi mereka.

Materi Pelatihan: Dari Flanel hingga Miniatur Kayu

Program pelatihan dibagi dalam beberapa sesi yang mengajarkan berbagai keterampilan dasar prakarya, di antaranya:

  • Kerajinan kain flanel: membuat gantungan kunci, bunga, dan hiasan nama.

  • Stik es krim & karton: pembuatan miniatur rumah, rak kecil, dan tempat alat tulis.

  • Daur ulang bahan bekas: cara menyulap botol bekas menjadi pot gantung, atau kardus menjadi organizer.

  • Manik-manik & pernak-pernik: membuat tasbih mini, bros jilbab, dan gelang.

  • Penggunaan alat: pelatihan menggunakan glue gun (lem tembak), gunting craft, cutter khusus, dan lainnya.

Seluruh peserta menerima paket prakarya eksklusif dari Prakarya Indonesia, termasuk lem tembak mini, kain flanel warna-warni, benang rajut, stik kayu, manik-manik, dan alat pendukung lainnya.

Lebih dari Sekadar Karya: Disisipkan Nilai Spiritual

Hal unik dari pelatihan ini adalah penyisipan nilai-nilai Qur’ani dan keimanan dalam proses pembelajaran. Setiap sesi diawali dengan pembacaan ayat-ayat tentang kerja keras, keikhlasan, dan pentingnya produktivitas dalam Islam.

Dalam sesi “Tadabbur Kreatif”, Ustadzah Nurma Aulia dari Rumah Tahfidz El-Qalam menyampaikan kajian tentang bagaimana Nabi-Nabi terdahulu adalah pekerja keras—mulai dari Nabi Nuh sebagai tukang kayu, hingga Nabi Muhammad ﷺ yang berdagang sejak muda.

“Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tapi juga mendorong kita berkarya dan memberi manfaat. Itulah nilai yang ingin kami tanamkan,” ujar Ustadzah Nurma di tengah sesi inspiratif tersebut.

Wirausaha Santri: Menjual Karya dengan Akhlak

Sebagai bagian dari pelatihan, para peserta juga dibekali dengan pemahaman dasar bisnis prakarya. Tim Prakarya Indonesia menghadirkan mentor UMKM muda, yang memberikan sesi khusus: “Menjual dengan Akhlak, Berkarya dengan Hati.”

Para peserta diajarkan:

  • Cara menghitung modal dan keuntungan sederhana

  • Teknik memotret produk untuk dipromosikan di WhatsApp dan Instagram

  • Etika berdagang dalam Islam

  • Membuat katalog digital dan menerima pre-order

Banyak peserta yang langsung antusias untuk mencoba menjual karya mereka kepada teman-teman pesantren atau komunitas masjid sekitar.

Prakarya Indonesia Gelar Pelatihan Prakarya Gratis Bersama Para Penghafal Al-Qur’an

Respons Peserta: Senang, Haru, dan Terinspirasi

Salah satu peserta, Ahmad Faisal (17 tahun), penghafal 15 juz dari Depok, menyampaikan rasa harunya.

“Biasanya kami hanya menghafal dan belajar kitab. Tapi hari ini saya bisa buat gantungan kunci dari flanel dan akrilik. Saya bangga, dan ingin ajarkan ke adik-adik di rumah tahfidz.”

Sementara itu, Khadijah, santriwati dari Bandung, berkata bahwa kegiatan ini mengubah cara pandangnya tentang berkarya:

“Saya pikir prakarya itu cuma main-main. Ternyata, bisa jadi peluang usaha, dan bisa disinergikan dengan dakwah.”

Komitmen Ke Depan: Program Berkelanjutan dari Prakarya Indonesia

Melihat respons positif, CEO Prakarya Indonesia, Saiful Anwar, Ph.D, menegaskan bahwa pelatihan ini akan menjadi program berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, pihaknya menargetkan:

  • Mengadakan pelatihan di 10 kota besar setiap tahun

  • Memberikan beasiswa alat prakarya untuk rumah tahfidz binaan

  • Menggelar lomba prakarya santri nasional

  • Membuka program reseller khusus santri sebagai wirausaha pemula

“Kami ingin membentuk generasi penghafal Al-Qur’an yang juga pengusaha. Tidak ada yang lebih membanggakan selain melihat para hafizh punya karya dan penghasilan dari tangan mereka sendiri,” pungkas Saiful.

Penutup: Saatnya Santri Naik Kelas, Berkarya dan Memberi Manfaat

Pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa iman dan kreativitas bisa berjalan berdampingan. Santri yang biasanya diasosiasikan hanya dengan kitab dan lantunan hafalan, kini menunjukkan bahwa mereka juga bisa menghasilkan karya nyata yang bernilai ekonomi.

Prakarya Indonesia, melalui acara ini, menegaskan perannya bukan hanya sebagai penyedia alat prakarya anak, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial. Ketika para hafizh mulai menjahit, menyusun stik es krim, dan menyulap kain flanel menjadi hiasan, mereka sebenarnya sedang menjahit masa depan mereka sendiri: masa depan yang mandiri, berdaya, dan tetap dalam naungan cahaya Al-Qur’an.

Baca juga: Pelatihan Art Class Membuat Ondel dan Melukis Wayang melibatkan 1.800 siswa SD Budha Tzu Chi

1. Apa itu pelatihan gratis Prakarya Indonesia untuk penghafal Al-Qur’an?

Pelatihan ini adalah program sosial dari Prakarya Indonesia yang memberikan keterampilan prakarya secara gratis kepada para santri dan santriwati penghafal Al-Qur’an. Tujuannya untuk membekali mereka dengan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan wirausaha.


2. Siapa saja yang bisa ikut pelatihan ini?

Peserta pelatihan adalah santri atau santriwati berusia 12–20 tahun yang telah menghafal Al-Qur’an minimal 5 juz. Program ini dikhususkan untuk pesantren dan rumah tahfidz yang menjadi mitra Prakarya Indonesia.


3. Apa saja materi prakarya yang diajarkan?

Materi pelatihan meliputi keterampilan membuat kerajinan dari kain flanel, stik es krim, barang daur ulang, manik-manik, serta teknik dasar menjahit dan penggunaan alat prakarya modern seperti lem tembak.


4. Apakah peserta mendapatkan alat dan bahan prakarya?

Ya, seluruh peserta mendapatkan paket alat prakarya gratis dari Prakarya Indonesia. Isinya termasuk kain flanel, stik kayu, lem tembak mini, gunting craft, benang, dan pernak-pernik.


5. Apakah pelatihan ini hanya sekali atau akan diadakan rutin?

Prakarya Indonesia berkomitmen untuk menjadikan pelatihan ini sebagai program tahunan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Medan.


6. Apakah peserta juga belajar cara menjual hasil karyanya?

Ya. Selain prakarya, peserta dibekali pelatihan kewirausahaan dasar seperti cara menjual produk di media sosial, menghitung harga jual, dan membuat katalog digital sederhana.


7. Bagaimana cara pesantren mendaftarkan santrinya untuk pelatihan ini?

Pesantren atau rumah tahfidz dapat menghubungi Prakarya Indonesia melalui email resmi atau formulir pendaftaran mitra sosial yang tersedia di situs resmi Prakarya Indonesia.


8. Apakah pelatihan ini terbuka untuk umum?

Saat ini pelatihan difokuskan untuk santri penghafal Al-Qur’an. Namun Prakarya Indonesia juga memiliki program terbuka lainnya untuk guru, orang tua, dan anak-anak melalui kanal edukasi reguler.


9. Siapa yang menjadi mentor dalam pelatihan ini?

Pelatihan dipandu oleh tim edukasi dari Prakarya Indonesia serta pengrajin UMKM profesional dan ustadz/ustadzah yang menyisipkan nilai-nilai Qur’ani dalam proses pembelajaran.


10. Mengapa pelatihan ini penting untuk santri penghafal Al-Qur’an?

Karena selain hafalan, santri juga perlu keterampilan hidup. Pelatihan ini memberi mereka bekal kreatif untuk mandiri secara ekonomi, tetap dalam koridor syariah, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Scan the code